|
Plagiarisme Ilmiah Biasanya Terjadi Di Program Master Dan Doktor
Kamis, 04 Maret 2010 | 16:45 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta - Ketua Senat akademik IPB, Prof. Dr. Ir Dudung Darusman mengatakan plagiarisme karya ilmiah biasanya terjadi pada program Master dan Doktor. “Sampai saat ini belum ada sanksi tegas terhadap orang yang melakukan plagiat. Paling mahasiswa tersebut disuruh membuat judul tesis atau disertasi baru,” kata dia kepada Tempo di Bogor, Kamis (04/03)
Dudung mengatakan mengatakan kasus plagiat terjadi di semua perguruan tinggi negeri maupun swasta. Di IPB pun, kata dia, juga pernah terjadi. "Namun ada yang terungkap dan ada yang tidak."
Dudung Darusman mengungkapkan hal tersebut disela-sela acara diskusi mengenai Plagiarisme karya Ilmiah di kampus Institut Pertanian Bogor Darmaga, Kamis (4/3) siang. Dalam acara ini sekaligus diluncurkan buku berjudul "Etika Penulisan Karya Ilmiah" karya Dr Gunawan Wiradi yang diterbitkan Akatiga--sebuah LSM di Bandung. Pembicara dalam diskusi ini, antara lain, Dr. Gunawan Wiradi , Prof. Dr. Aunu Rauf, dan Prof. Dr. Yonni Kusmaryono. (Selengkapnya)
Mampukah UKM bendung 'tsunami' produk China
Oleh: Mulia Ginting Munthe & Arif Pitoyo
BISNIS INDONESIA, Pemberlakuan Asean-China Free Trade Agreement (ACFTA) membawa mimpi buruk bagi pelaku usaha kecil dan menegah (UKM) di Indonesia.
Wajar saja, karena ACFTA ini lah, produk murah yang berasal dari Negeri Tirai Bambu tersebut akan mengalir deras seperti air bah tanpa bisa terbendung lagi. Bukan hanya produk garmen, peralatan rumah tangga, elektronik dan lainnya, bahkan sampah pun bisa saja mengalir ke negeri kita tanpa ada lagi filter yang berarti.
Sebelum adanya ACFTA pun sebenarnya produk China sudah sedemikian mengguritanya di Indonesia, yaitu sejak awal 2008. Saat itu kualitas produk China memang dipandang rendah dengan harga murah, tetapi fenomena yang terjadi saat ini, produk lokal pun berlomba-lomba menggunakan merek dan ciri khas China. (Selengkapnya)
Sejumlah UKM di daerah gulung tikar Pemerintah dinilai kurang siap hadapi ACFTA
Rabu, 3 Maret 2010
BISNIS INDONESIA, JAKARTA: Sejumlah usaha kecil menengah (UKM) di daerah terpaksa gulung tikar, menyusul pemberlakuan perdagangan bebas Asean-China mulai tahun ini.
Ketua Forum Daerah UKM Yogyakarta Dwi Hendri mengungkapkan akibat diberlangsungkannnya ACFTA membuat beberapa pelaku usaha kecil dan menengah di sejumlah wilayah di Jawa mengalami gulung tikar.
Hendri menambahkan di sentra kerajinan di Yogyakarta dan Jawa Tengah mengalami penurunan drastis baik produksi maupun pesanan barang. "Di lapangan [pusat sentra kerajinan UKM] terjadi penurunan drastis," katanya di sela--sela diskusi "Outlook UMKM", kemarin.
Dia menambahkan penurunan sudah terjadi di beberapa daerah pada 2008 dan di Yogyakarta sendiri sudah berlangsung sejak 2004. Pada tahun ini, tambah Hendri, diprediksi semakin banyak pelaku UKM yang kolaps setelah diberlakukannya ACFTA. (Selengkapnya).
ETIKA PENULISAN KARYA ILMIAH Gunawan Wiradi
Dalam komunitas keilmuan dikenal maksim “Publish or Perish”. Maksim yang berbunyi demikian itu, memicu dan memacu para akademisien untuk menghasilkan karya ilmiah. Seorang ilmuwan akan diakui kehadirannya melalui tulisan-tulisan. Mereka adalah orang-orang yang “berpikir-dengan-tanganya”. Menulis sebuah karya ilmiah merupakan suatu genre tulisan tersendiri yang berbeda dari menulis puisi, novel, cerpen atau karya-karya yang lain. Karya karya tersebut berbeda dalam format penulisan, dalam hal ini format penulisan ilmiah. Oleh karena itu para penulis karya ilmiah barang tentu perlu memiliki pengertian tentang format tersebut bagaimanapun sederhananya. Buku yang ditulis oleh sdr. Gunawan Wiradi ini menambah informasi dan wawasan bagi kita tentang seluk-beluk penulisan karya ilmiah yang sangat bermanfaat bagi komunitas akademis. Kelebihan dari tulisan ini adalah fokusnya kepada masalah etika, yaitu etika penulisan karya ilmiah (Selengkapnya).
MENUJU UPAH LAYAK Indrasari Tjandraningsih & Rina Herawati
Persoalan upah minimum buruh di Indonesia belum selesai diperdebatkan. Inti perdebatan terletak pada ketidakcukupannya untuk memenuhi kebutuhan hidup di sisi buruh dan kenaikannya setiap tahun yang memberatkan di sisi pengusaha. Salah satu gagasan untuk mencari jalan keluar dari perdebatan ini ini adalah dilontarkannya konsep upah layak. Konsep upah layak di tingkat internasional digagas oleh ITGLWF – Serikat Internasional untuk Pekerja Tekstil garmen dan Kulit yang disebarluaskan kepada afiliasinya di tingkat regional dan nasional. Afiliasi nasional di Indonesia yakni SPN – Serikat Pekerja Nasional dan Garteks SBSI – Garmen Tekstil Serikat Buruh Sejahtera Indonesia menyambut gagasan ini dan sepakat untuk melakukan survey yang akan dijadikan data pendukung merumuskan konsep upah layak untuk Indonesia. Survey ini dilaksanakan melalui kerjasama antara SPN dan Garteks SBSI dengan bantuan teknis oleh AKATIGA yang didukung secara financial oleh FES – Friedrich Ebert Stiftung kantor Jakarta dan TWARO – Textile Workers Association Regional Office. Seluruh proyek kegiatan dilaksanakan selama 6 (enam)- bulan dan kegiatan surveynya sendiri dilaksanakan bulan Maret dan April 2009. (Selengkapnya)
GERAKAN POLITIK PETANI BATANG Hilma Safitri
Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah pola gerakan yang dibangun di FPPB/FP2NBP ini efektif sebagai pola gerakan yang dibangun untuk mencapai cita-cita perjuangan kaum tani di Kabupaten Batang, yaitu cita-cita yang sesuai dengan semboyan FPPB yaitu Kesadaran Berpihak Kepada Yang Lemah, Melawan Tanpa Kekerasan Pada Penindas. Cita-cita ini sangat perlu didukung oleh kesadaran pihak lain untuk dapat memahami persoalan yang dihadapi petani penggarap, agar dapat memberikan keadilan dengan upaya-upaya yang tidak menghendaki jatuhnya korban, baik di pihak penduduk setempat maupun para anggota FPPB/FP2NBP, pihak lawan sengketa, serta pihak birokrasi pemerintahan, khususnya di Kabupaten Batang. Selama perjalanan FPPB/FP2NBP, cita-cita ini diupayakan dengan strategi seperti yang dicita-citakan yaitu “melawan tanpa kekerasan pada penindas”. (Selengkapnya)
PENGHIDUPAN MASYARAKAT PEDESAAN NTT DAN NTB: KRISIS DAN PERUBAHAN Ringkasan Eksekutif
Penelitian ini bertujuan untuk melihat perubahan-perubahan yang terjadi pada masyarakat miskin pedesaan di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara TImur (NTT) di masa di antara dua krisis besar yakni krisis Asia 1997 dan krisis finansial AS (global) 2008, termasuk kemungkinan pengaruh krisis finansial global di kedua wilayah termiskin di Indonesia tersebut, yang sekaligus menjadi wilayah kerja Oxfam Australia. Secara spesifik melalui penelitian ini hendak dijawab - dalam perspektif gender -perubahan apa yang terjadi pada masyarakat dalam kurun 10 tahun terakhir, adakah mereka mengalami krisis dan strategi apa saja yang dibangun dalam menghadapi krisis. Kebutuhan praktis studi ini adalah sebagai input untuk mengembangkan joint Oxfam Indonesia Country Strategy dan input terhadap kerja Oxfam di ke dua wilayah tersebut.(Selengkapnya)
|