akatiga.org

Elections, Welfare, and Social Protections in Indonesia

19 Agustus 2013 By In Acara
Rate this item
(0 votes)

 7mei2013

Berbicara tentang Indonesia dan kesejahteraan masyarakatnya memang salah satu topik yang menarik untuk digali. Karena sejak Indonesia merdeka pada tahun 1945 sampai sekarang sebagian masyarakat Indonesia masih belum merata yang bisa hidup dalam kesejahteraan. Apakah mungkin dikarenakan pemilihan orang-orang pemerintahan yang belum sesuai atau kurangnya perlindungan sosial kepada masyarakat Indonesia?

Dengan isu tersebut maka diskusi bulanan AKATIGA kali ini mengangkat tema €œElection, Welfare and Social Protection in Indonesia yang juga merupakan penelitian narasumber pada diskusi ini yaitu Michael Buehler, beliau adalah seorang asisten profesor di Department of Political Science di Northern Illinois University, dan sekarang sedang di Indonesia dalam salah satu rangkaian penelitiannya.

Selama beberapa tahun terakhir, kita melihat bahwa di Indonesia, baik di tingkat nasional dan tingkat sub-nasional, di tingkat provinsi atau kabupaten. Kita melihat sekarang bahwa politisi di Indonesia memulai sesuatu untuk membuat semacam janji tentang isu-isu kesejahteraan, tentang masalah kesehatan, atau masalah asuransi. Saya ingin mencoba untuk mencari tahu atau mencoba untuk berbicara dengan Anda tentang ini, dalam konteks pemilihan masyarakat sipil, ujar Michael mengawali presentasinya.

Beliau telah pergi ke semua KPU di Indonesia dan mengumpulkan riwayat hidup, profil para calon, latar belakang organisasi, pekerjaan mereka, apa yang telah mereka lakukan selama lebih dari 20 tahun terakhir. Dan benar-benar menganalisa orang-orang yang memenangkan pemilu. Beliau bekerja pada orang-orang yang ikut serta dalam pemilu, dan juga orang-orang yang sudah kalah.  Jadi apa yang menarik disini, bukan hanya orang-orang PNS yang menang, tetapi juga sebenarnya banyak orang bersaing juga menarik untuk diteliti. Sebagian besar orang yang bersaing adalah PNS. Tidak ada orang LSM yang ikut dalam pemilihan ini. Jadi sebagian besar orang yang ikut adalah PNS, sehingga benar-benar yang namanya politik di Indonesia adalah kompetisi dalam birokrasi. Sebagian besar PNS melawan satu sama lain.

Peserta yang hadir diantaranya ada dari kalangan mahasiswa Teknik Planalogi ITB, beberapa rekan-rekan jaringan LSM dan juga para peneliti AKATIGA. Mereka begitu antusias mengikuti diskusi ini dan keingintahuan tentang proses pemilihan wakil daerah dan bagaimana Michael melihat kegiatan pemerintahan di Indonesia ini, serta bagaimana peran lembaga sosial dan perburuhan di Indonesia dilihat dari kacamata seorang Michael Buehler.

Merangkum apa yang telah dipresentasikan Michael Buehler, sebenarnya kita telah melihat banyak perubahan di Indonesia selama 15 tahun terakhir. Sejak tahun 1998, ketika demokratisasi dimulai, kita melihat lebih banyak tekanan publik terhadap pemerintah. Pemikiran tentang lembaga di luar pemerintah yang tidak mampu menggerakan roda mereka, itu salah. Sekarang jauh lebih kompleks, tekanan lebih banyak dari organisasi masyarakat sipil dan indikasinya banyak perlindungan yang lebih sosial di Indonesia. Beliau hanya menyebutkan contoh-contoh ini untuk menunjukkan  bagaimana perlindungan sosial benar-benar jauh berkembang tidak hanya dalam masalah kesehatan, asuransi, membayar upah manfaat, pensiun, ini juga termasuk perlindungan sosial. Ini adalah masalah yang mempertimbangkan perlindungan sosial, jadi ada banyak perkembangan positif yang benar-benar berubah. Ide bahwa elit Orde Baru hanya dalam kekuasaan dan tempatnya, jelas salah. Kita mengalami banyak perubahan, tetapi dampak dari perubahan ini sangat terbatas, yang mengerucut pada tiga bidang dimensi, yaitu pemilu, LSM, dan kemudian kapasitas pemerintah. Kesejahteraan masyarakat di Indonesia bisa dikatakan tergantung pada tiga hal tersebut.

Dan di akhir sesi tanya jawab, Michael menyampaikan pesan kepada rekan-rekan LSM, €œJika anda melihat bagaimana semua kesejahteraan negara muncul di barat, di Eropa atau di Amerika Serikat, kita melihat bahwa kasus ini adalah perjuangan yang membutuhkan waktu ratusan tahun. Saya pikir itu sangat baik bahwa sekarang elit semakin takut satu sama lain, persaingan yang nyata dan itulah sebagaimana bermula di Eropa. Para elit mulai mengadopsi beberapa kebijakan ini karena mereka tidak takut LSM, tetapi elit lain. Selama LSM selalu mengingatkan apa isu-isu penting, saya pikir itu baik. Sekarang tidak ada lagi Pilkada di Indonesia yang tidak dapat menjalankan dan membuat janji perawatan kesehatan gratis atau pendidikan gratis. Jadi ini merupakan tugas LSM menantang Bupati untuk meminta apa yang sebenarnya orang ingin memiliki karena semua warga negara Indonesia tidak tahu bahwa mereka dapat mengharapkan sesuatu dari negara. Selama LSM tetap informal itu sebenarnya lebih sukses dan berpengaruh daripada menjadi formal. Jadi tetaplah informal.”

Untuk lebih mengenal Michael Buehler dan jika ingin membaca artikel-artikelnya,sila mengunjungi website www.michaelbuehler.asia

Read 1908 times Last modified on Senin, 02 September 2013 09:46

Apa itu Akatiga?

Lembaga Pusat Penelitian Sosial yang mengkaji isu-isu sosial untuk pengentasan kemiskinan bagi kaum marginal di Indonesia.

Alamat

Jl. Tubagus Ismail II. No 2.
Bandung 40134. Jawa Barat - Indonesia.

Phone: 022 2502302
Fax: 022 2535824

E-mail: akatiga@indo.net.id

  

Berlangganan

Hasil studi, Berita dan opini di email anda

Peta

Anda disini: Acara Elections, Welfare, and Social Protections in Indonesia