akatiga.org

Dari Pabrik ke Jalanan

02 Januari 2014 By Maria Sinurat In Acara
Rate this item
(0 votes)

Judul : Bekasi Bergerak

Genre : Dokumenter
Durasi : 35 menit 7 detik
Sutradara : Bambang TD
Produser : Abu Mufakhir
Editor : Yuslam Fikri Anshari dan Wiranta Yudha Ginting
Publikasi : LIPS dan KoPI
Bahasa : Indonesia
Subjudul : Inggris; Indonesia
Rilis : November 2013

 

Upaya mendokumentasikan adalah salah satu upaya melawan lupa. Upaya menyebarluaskan dokumentasi bertumpu pada semangat untuk merawat ingatan bersama. Atas dasar itulah, AKATIGA, Lembaga Informasi Perburuhan Sedane (LIPS), dan LBH Bandung menggelar pemutaran film dokumenter Bekasi Bergerak yang diikuti seri diskusi “Refleksi Perburuhan 2013” di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, Senin (30/12). Kegiatan ini menghadirkan Abu Mufakhir (produser film juga peneliti di LIPS) dan Arip Yogiawan (Direktur LBH Bandung) selaku pembicara, serta Rina Herawati (AKATIGA) sebagai moderator.

Bekasi Bergerak adalah karya LIPS dan KoPI (Komunitas Perfilman Intertekstual) yang dirilis pada November 2013. Film ini mencoba merekam perlawanan buruh, secara khusus di Bekasi, untuk memperjuangkan hak-hak dasarnya dalam kurun waktu 2011-2013. Rentang waktu itu dimampatkan dalam film berdurasi 35 menit 7 detik yang menceritakan perubahan bentang alam Bekasi akibat industri, keseharian para buruh, dan perlawanan buruh Bekasi beserta bentuk-bentuknya.

Bekasi adalah titik penting sebagai daerah industri terpadat di Indonesia. Daerah ini adalah tujuan investasi mengingat letaknya yang strategis dengan Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan Pelabuhan Tanjung Priok. Saat ini sebelas kawasan industri yang dikelola oleh swasta telah dibuka di Bekasi yang tujuh di antaranya telah beroperasi. Selain itu, jumlah serikat buruh di Bekasi adalah yang terbanyak dan beragam daripada daerah-daerah lain.

Industri mengubah wajah Bekasi juga kehidupan para buruh. Lika-liku kehidupan buruh untuk bertahan hidup, berorganisasi, juga bagaimana mereka menyiapkan aksi ditampilkan melalui gambar bergerak. Film ini juga mengikuti gerak para buruh yang turun ke jalan, memblokade jalan, hingga menggerebek pabrik.

Film ini menunjukkan betapa pentingnya sebuah dokumentasi. Dokumentasi di bidang perburuhan bisa dikatakan minim. Mayoritas masyarakat mendapatkan informasi perburuhan dari berita di media massa, itupun hanya seputar demonstrasi. Film yang diharapkan menjadi bahan pendidikan bagi serikat buruh ini juga dapat menjadi rujukan alternatif untuk menengok dinamika perburuhan. Bekasi Bergerak juga terus diupayakan agar dapat diakses oleh siapapun.

"Saat ini banyak kalangan hampir memiliki alat-alat canggih untuk kegiatan serikat buruh. Tapi sekadar merekam. Jika tidak didokumentasikan secepatnya, barangkali 20 tahun ke depan. Kejadian di Bekasi jika tidak didokumetasikan dengan baik akan kehilangan tanpa jejak," jelas Abu Mufakhir.


Saluran macet

Dari film ini dapat dilihat bahwa mobilisasi massa menjadi strategi yang mewarnai perjuangan buruh. Di seluruh daerah di Indonesia, aksi massa memang lebih sering mendapatkan gaung ketimbang perundingan-perundingan dalam ruangan. Bagi Abu, peristiwa di Bekasi pada periode 2011-2013 memperlihatkan kapasitas mobilisasi serikat buruh yang semakin baik. “Di Bekasi sampai ada bengkel khusus mobil komando,” terangnya.

Kegelisahan di pabrik dituangkan di jalanan. “Politik” jalanan ini terus berlangsung, bagi Abu, karena saluran-saluran formal untuk bernegosiasi tidak berpihak kepada buruh. Para buruh juga harus bergerak di tengah kontrol pabrik yang kian ketat. Abu menceritakan bagaimana pabrik melarang buruh membawa telepon genggam, motor, hingga menambah kamera pengawas untuk membatasi ruang gerak buruh. Larangan-larangan ini menyulitkan buruh untuk berkoordinasi dan berdiskusi dengan sesama buruh.

Arip Yogiawan menambahkan, idealnya tersedia ruang negosiasi untuk mempertemukan buruh dan manajemen pabrik. “Ruang berunding harus ada dan harus setara,” ungkapnya.

Namun dalam kenyataan, dia melanjutkan, ruang itu tidak ada dan saluran-saluran lain pun macet sehingga buruh berdemonstrasi dan mogok. Ruang-ruang partisipasi yang disediakan oleh negara juga tidak mampu melindungi hak-hak buruh. Gerakan jalanan dinilai tetap perlu ada disamping tetap mengusahakan perundingan yang setara. Strategi lain untuk membawa suara buruh ke level politik juga dapat dilakukan dengan membentuk partai. “Tidak apa buruh membentuk partai politik asalkan jangan sampai termoderasi dan bermutasi menjadi politik praktis saja,” ungkap Yogi.

Kegiatan yang berlangsung pukul 13.00 ini dihadiri sekitar 50 peserta dari perwakilan serikat buruh Bekasi maupun Bandung, mahasiswa, masyarakat umum, organisasi nonpemerintah, dan pegiat gerakan sipil. Masukan penting dari Lenny Marliani, peserta diskusi, adalah bagaimana buruh-buruh informal ke depannya juga diulas dan mendapatkan tempat dalam dinamika perburuhan. Berdasarkan data BPS, dari 114 juta buruh di Indonesia, 71 jutanya adalah buruh informal. "Jika buruh formal saja begitu sulit mempertahankan hak-haknya, apalagi buruh informal," ujarnya.
(Syarif Arifin/Maria Sinurat)

 

 

 

Read 1883 times Last modified on Kamis, 02 Januari 2014 09:42

Apa itu Akatiga?

Lembaga Pusat Penelitian Sosial yang mengkaji isu-isu sosial untuk pengentasan kemiskinan bagi kaum marginal di Indonesia.

Alamat

Jl. Tubagus Ismail II. No 2.
Bandung 40134. Jawa Barat - Indonesia.

Phone: 022 2502302
Fax: 022 2535824

E-mail: akatiga@indo.net.id

  

Berlangganan

Hasil studi, Berita dan opini di email anda

Peta

Anda disini: Acara Dari Pabrik ke Jalanan