AKATIGA

artikel

ARTIKEL DAN OPINI  I  PEMERINTAHAN DAN INSITUSI   



Antara Penduduk Kota, Kemiskinan, & ”Good Governance” Cetak E-mail
Ditulis Oleh: Fauzan Jamal dan Eka Chandra   

Populasi penduduk dunia saat ini telah mencapai 6,5 miliar jiwa. Jumlah tersebut akan terus bertambah mengingat setiap detik lahir 4,4 bayi. Menurut perkiraan, penduduk dunia pada tahun 2050 diperkirakan mencapai angka 9 miliar (Global Demographic Divide; Mary Kent, 2006).

Saat ini, hampir separuh penduduk dunia tinggal di perkotaan. Berdasarkan laporan Divisi Kependudukan Dewan Ekonomi dan Sosial (Ecosoc) PBB (2006), hingga tahun 2005, sekira49% atau 3,2 miliar penduduk dunia tinggal di wilayah perkotaan. Penduduk perkotaan rata-rata meningkat setiap tahunnya sebesar 3.54%. Pada tahun 1950, penduduk dunia yang tinggal di perkotaan hanya 29%, tahun 1970 (35,9%), 1990 (43%) dan pada tahun 2000 sekira 46,7%. Dengan asumsi rata-rata pertumbuhan penduduk 1,8% per tahun, pada tahun 2030 jumlah penduduk perkotaan di dunia diperkirakan akan mencapai 4,9 miliar atau sekira 60% dari jumlah penduduk dunia.

selengkapnya...
 
Bank Dunia dan Good Governance Cetak E-mail
Ditulis Oleh: Yulia Sari dan Fauzan Djamal   

Dengan nilai pinjaman ketiga tertinggi di Indonesia pada tahun 2005 (8,8 miliar dolar AS, setelah Jepang dan IMF), Bank Dunia adalah institusi paling berpengaruh sekaligus paling kontroversial di Indonesia saat ini. Ia dipuja sekaligus dicaci. Harapan bagi negara miskin sekaligus penyakit buat para penentang "neokolonial" korporasi globalisasi. Berbagai opini telah diberikan tetapi seperti apakah Bank Dunia itu?

Bank Dunia sering disebut sebagai institusi "Bretton Wood", karena di dalam konferensi yang diselenggarakan di Bretton Woods, New Hampshire, itulah Bank Dunia pertama kali dibentuk 62 tahun silam. Klien pertamanya Prancis yang digelontori pinjaman senilai USD 250 miliar untuk rekonstruksi pascaperang. Bank Dunia bernama panjang International Bank for Reconstruction and Development (IBRD). Bersama The International Finance Corporation (IFC), International Development Association (IDA), Multilateral Investment Guarantee Agency (MIGA), dan International Centre for Settlement of Investment Disputes Kelompok ini memberi pinjaman pada negara sedang berkembang dengan tujuan memerangi kemiskinan dan mendorong tumbuhnya investasi internasional. (ICSID), mereka disebut Kelompok Bank Dunia.

selengkapnya...
 
Dan Pemenangnya Adalah: Kemiskinan! Cetak E-mail
Ditulis Oleh: Rahim Asyik (Pikiran Rakyat)   

Juhri sudah tua, usianya 65 tahun. Kedua kakinya lumpuh. Sudah lama ia mengeluh sakit kepala. Tapi Sabtu (22/10/2005) pagi itu, ia terlihat sehat. Sekira pukul 06.00 WIB, lelaki yang berprofesi sebagai tukang cukur itu diantar anaknya menuju Balai Desa Sirnajaya Kec. Karangjaya Kab. Tasikmalaya. Jaraknya cuma 500 meter dari rumah. Tiba di balai desa, Juhri duduk di ruang tunggu. Ia datang untuk mengambil uang bantuan langsung tunai (BLT). Saat itulah tiba-tiba Juhri jatuh tersungkur. Warga yang ikut antre spontan memberi pertolongan. Namun, nyawanya keburu melayang.

Senin dua hari kemudian, 20 lansia jatuh pingsan saat mengantre BLT di Kec. Ciampea Kab. Bogor. Peristiwa itu terjadi di depan tiga anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Jawa Barat, H. Mohamad Surya, P.R.A. Arief Natadi­ningrat, dan K.H. Sofyan Yahya. Waktu itu, lebih dari tujuh ribu orang tumplek blek di kecamatan. Sebetulnya, waktu pencairan BLT-nya sudah diatur. "Tapi, mau bagaimana lagi, mereka keukeuh datang," kata Camat Ciampea, Maman Wirakusuma. Di Desa Ciasem Tengah Kec. Ciasem Kab. Subang, 400 warga miskin (gakin) berdemo ke kantor Kecamatan Ciasem. Mereka mempertanyakan pendistribusian kartu kompensasi BBM (KKB).

selengkapnya...
 
Kemiskinan dan Perkara Identitas Cetak E-mail
Ditulis Oleh: Selly Riawanti dan Eka Chandra   

BLT ricuh. Setidaknya ada dua jenis kericuhan di dalam pelaksanaan BLT atau bantuan langsung tunai ini. Ketidaksesuaian data dan ketidaksiapan pengorganisasian. Kemudian muncul implikasi susulan seperti kematian orang tua, pembunuhan, penganiayaan, mundurnya aparat desa, dan ancaman terhadap petugas pencacah.

Yang terjadi mungkin ketidaksesuaian identitas. Bagaimana orang-orang diidentifikasi sebagai si miskin, dan bagaimana orang-orang mengidentifikasi dirinya sebagai miskin. Penelitian menunjukkan, keadaan miskin tak melulu berkaitan dengan keterbatasan materi tetapi juga keterbatasan sumber daya sosial. Miskin juga sebetulnya perkara identifikasi, identitas, dan tawar-menawar yang dinamis. Ketika ada BLT, orang berbondong-bondong mengidentifikasi dirinya miskin dan menawarkan identitasnya kepada pemilik otoritas. Proses identifikasi itu terkait dengan akses terhadap sumber daya untuk pemenuhan kebutuhannya, dalam hal ini uang.

selengkapnya...
 


PENGUNJUNG

Kami memiliki 4 Tamu online
Anda Berada Dihalaman  : Home Artikel dan Opini Pemerintahan dan Institusi

PETA SITUS AKATIGA

sitemap Peta Situs Akatiga
akatiga