AKATIGA

penelitian
Bagaimana Memenangkan Persaingan? Cetak E-mail
Ditulis Oleh: Indrasari Tjandraningsih   

Laporan Pelaksanaan
KONFRENSI NASIONAL TEKSTIL DAN
GARMEN
INDONESIA
AKATIGA - FES, Hotel Sultan Jakarta


PENGANTAR

Konferensi ini merupakan tindak lanjut dari sebuah kegiatan studi mengenai dampak berakhirnya kuota ekspor tekstil dan garmen terhadap industri ini di Indonesia. Studi dampak berakhirnya kuota dilakukan dalam sebuah proyek bersama di tingkat regional untuk dua negara yakni Indonesia dan Kamboja dan dikembangkan sebagai proyek bersama antara FES, Sudwind, AKATIGA (Indonesia) dan CIDS – Cambodian Institute of Development Studies (Kamboja).

Konferensi ini merupakan rangkaian dari studi yang dilakukan di Indonesia, yang dilaksanakan pada tahun 2007. Studi yang disusun dalam laporan berjudul Penghapusan Kuota dan Industri Tekstil dan Garmen Indonesia:Di Mana Kita Berada? menemukan bahwa kondisi suram yang dialami industri tekstil dan garmen bukan disebabkan oleh penghapusan kuota melainkan oleh hambatan2 berusaha dan berinvestasi dari dalam negeri, baik yang disebabkan oleh pemerintah maupun oleh para pelaku industri itu sendiri. Hasil studi telah diseminarkan di Bandung bulan Desember 2007 yang dihadiri pula oleh partner studi dari Kamboja, para pengurus serikat pekerja/serikat buruh, aparat pemerintah terkait dan LSM serta wakil2 dari serikat tekstil internasional (ITGLWF) dan Clean Clothes Campaign.

Telaah lebih lanjut dari hasil studi tersebut memperlihatkan kaitan yang sangat erat antara temuan-temuan studi dengan realitas perkembangan industri Tekstil dan Garmen nasional, serta memberikan berbagai peluang untuk melakukan kegiatan mendukung industri ini dan para pemainnya, terutama serikat buruh dan pemerintah. Salah satu temuan studi berkaitan dengan gempuran produk tekstil dan garmen Cina yang masuk baik secara legal maupun ilegal yang dianggap sangat mengancam produk tekstil dan garmen Indonesia. Temuan ini mendorong AKATIGA untuk melakukan analisis lebih lanjut untuk mengetahui seberapa besar ancaman Cina terhadap produk Indonesia di pasar Amerika sebagai pasar utama ekspor tekstil dan garmen Indonesia. Tahun 2008 AKATIGA melakukan studi analisis data sekunder mengenai persiangan produk Cina dan Indonesia di pasar AS dan hasilnya disusun dalam laporan studi berjudul Assesing the Performance of Indonesian Textile and Clothing Industry under the Agreement on Textile and Clothing Phase-Out . Studi ini menemukan bahwa di pasar AS meskipun berhadapan langsung dengan produk Cina, produk Indonesia tetap memiliki keunggulan dan peluang untuk terus unggul sebab ada beberapa kategori produk Indonesia yang sangat kompetitif dan tak dapat dikalahkan oleh Cina.

Temuan-temuan dari kedua studi tersebut menyediakan data yang penting yang intinya menyatakan bahwa industri tekstil dan garmen Indonesia masih memiliki banyak peluang dan dapat didorong untuk menjadi lebih berdaya saing serta samasekali bukan sebuah ‘sunset industry’ sebagaimana yang banyak didengungkan oleh berbagai pihak. Temuan-temuan studi juga menjadi faktor pendorong bagi AKATIGA dan FES untuk melakukan upaya menyebarkan gagasan kepada para pemangku kepentingan industri ini -serikat pekerja, pengusaha dan pemerintah serta para pemilik merk dunia - untuk mempertahankan dan memperkuat industri ini agar perannya sebagai penyerap tenaga kerja industri manufaktur dapat tetap dipertahankan.

PERSIAPAN KONFERENSI

Mempertahankan dan memperkuat daya saing industri tekstil dan garmen Indonesia menjadi gagasan utama yang akan disebarkan melalui konferensi nasional ini. Untuk membawa efek yang lebih luas, konferensi ini dipersiapkan dengan seksama. Persiapan yang seksama ini dilakukan karena FES dan AKATIGA sepakat bahwa kegiatan ini lebih dari sekedar mempresentasikan hasil studi akan tetapi menggunakan hasil studi untuk membangun kesadaran dan pemahaman bagaimana industri tekstil dan garmen dapat dan perlu dipertahankan.

Upaya pertama adalah meminta bantuan dari ITGLWF untuk menyempurnakan konsep acara untuk keperluan meyakinkan para pembeli dari kantor-kantor pusat mereka untuk berpartisipasi dalam acara ini. Strategi ini cukup efektif karena para buyer yang diundang memberikan respon dengan segera meskipun tak dapat mengirim wakil dari kantor pusat karena alasan kesibukan. Meskipun demikian ditugaskan para manajer regional untuk berpartisipasi dalam acara ini.

Serangkaian pertemuan dengan para pemangku kepentingan industri ini dilakukan untuk menganggap aspirasi dan tanggapan mereka terhadap gagasan pokok tersebut. Seri pertemuan pertama dilakukan dengan SENADA – sebuah proyek USAID untuk meningkatkan antara lain industri garmen Indonesia – dan Indotextiles – sebuah lembaga penyedia informasi dan promosi industri tekstil dan garmen Indonesia. Seri pertemuan pertama ini bertujuan menggagas kemasan acara dan titik masuk upaya meningkatkan daya saing industri. Semula konferensi ini akan diselenggarakan sebagai sebuah kerjasama antara empat lembaga yakni AKATIGA-FES-SENADA-Indotextiles. Akan tetapi pada satu titik SENADA dan Indotextiles mengundurkan diri dari kerjasama, meskipun pada akhirnya Indotextiles kembali bergabung sebagai penyelenggara. Diskusi dalam seri pertemuan pertama untuk mendapatkan titik masuk cara meningkatkan daya saing menyepakati bahwa mutu keterampilan tenaga kerja adalah adalah kuncinya.

Seri pertemuan kedua dilakukan dengan pengusaha, serikat pekerja dan tiga departemen yang terkait yakni Departemen Tenaga Kerja, Departemen Perindustrian dan Departemen Pendidikan Nasional untuk mempertajam titik masuk tersebut dan mengundang mereka sebagai narasumber dalam konferensi. Pengusaha dan Departemen Perindustrian memberikan sambutan yang sangat positif dan bersedia bekerjasama sebagai narasumber. Departemen Perindustrian diwakili oleh direktur tekstil dan produk tekstil sebagai narasumber dan pada awalnya Menteri Perindustrian juga akan memberikan sambutan kuncinya, tetapi di saat acara kehadirannya diwakilkan kepada dirjen ILMTA.

Seri pertemuan ketiga dilakukan dengan para wartawan dan moderator serta pelapor. Akses kepada wartawan dibuka dengan bantuan Indotextiles. Pertemuan dengan wartawan bertujuan untuk mengundang peliputan acara dan dengan para moderator dan pelapor untuk menjaga fokus, target dan koherensi acara. Dua moderator masing-masing dari pengurus API DKI dan dari The Jakarta Post bersedia membantu. Pelapor yang semula akan dibantu dari The Jakarta Post pada hari H digantikan oleh wakil dari SENADA.

Persiapan yang seksama juga dilakukan dalam menyebarkan undangan. Kategori undangan adalah: serikat pekerja, pengusaha – antara lain juga mendapat bantuan daftar nama dan alamat yang komprehensif dari SENADA - individu, wakil asosiasi :APINDO, API, Kadin pusat dan daerah, wakil-wakil pemerintah pusat dan daerah (Depnaker, Depperin, Diknas dan dinas2 di 4 provinsi masing-masing DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, BKPM dan KPMD serta Bappeda) LSM, lembaga penelitian, wartawan. Dari undangan kepada pemerintah2 daerah sambutan positif terutama datang dari pemda Jawa Tengah yang hadir diwakili oleh BPMD propinsi dan disnakertrans, kemudian DKI oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan dan Pemkot Bandung. Dari sekitar 150 undangan yang disebarkan, 82 hadir dalam acara ini.

PELAKSANAAN KONFERENSI

Sesi pertama dibuka oleh sambutan dari Direktur kantor FES Indonesia Erwin Schweisshelm dan dirjen ILMTA Departemen Perindustrian Ir. Anshary Bukhari. Dirjen ILMTA antara lain menegaskan keseriusan instansinya dalam mendukung industri tekstil dan garmen dengan mengalokasikan 70% anggaran direktoratnya untuk industri tekstil dan produk tekstil dan upaya memfasilitasi kerjasama tiga departemen yang telah disebut di atas untuk menyelenggarakan dan mengaktifkan pusat-pusat pelatihan tenaga kerja di daerah-daerah pusat industri tekstil dan garmen. Dirjen juga menyediakan waktu untuk menjawab beberapa pertanyaan dari hadirin dan mendengarkan presentasi hasil studi AKATIGA.

Sesi kedua berjudul Bagaimana Memenangkan Persaingan yang diisi dengan presentasi hasil studi AKATIGA oleh Indrasari Tjandraningsih yang diteruskan dengan tanya jawab dengan hadirin dan presentasi hasil studi SENADA ”End-Market Analysis for Garment Industry” oleh Henrietta Lake yang dibahas oleh wakil dari Adidas dan Gap. Nada dasar kedua presentasi maupun tanggapan dari kedua pembahas adalah terbukanya peluang peningkatan daya saing yang akan dapat direbut jika dilakukan pembenahan peningkatan mutu tenaga kerja dan memperbaiki pengelolaan proses produksi tekstil dan garmen serta menghilangkan hambatan-hambatan berusaha.

Sesi ketiga dengan judul Peta bagi Industri Tekstil dan Garmen Indonesia diisi dengan presentasi dari wakil ketua DPP API dan ketua DPD API Jawa Barat Ade Sudrajat dengan paparannya mengenai ”Perkembangan Global Industri TPT Indonesia”, Direktur Tekstil dan Produk Tekstil Departemen Perindustrian Ir. Arryanto Sagala dengan paparan mengenai ”Upaya-Upaya Nyata yang Telah dan Akan Dilakukan Departemen Perindustrian dalam rangga Peningkatan Daya Saing Industri Tekstil dan Produk Tekstil” serta Karel Sahetapy dari DPP SPN. Sesi ini memperlihatkan kondisi obyektif industri dan langkah nyata yang sedang dan akan dilakukan untuk mendorong industri tekstil dan garmen, melalui dua pembicara pertama. Pembicara dari wakil serikat tidak memberikan pandangan serikat mengenai bagaimana dan apa yang dapat dilakukan oleh serikat pekerja untuk mendorong industri ini, sebagaimana yang diharapkan.

Sesi keempat berjudul Peta bagi Terciptanya Tenaga Kerja Terampil di Industri Tekstil dan Garmen diisi oleh ketua Lembaga Sertifikasi Profesi Garmen Heru Setiawan dengan judul presentasi sama dengan judul sesi dan direktur International Garment Training Center Till Freyer yang mempresentasikan ”Exploring Opportunities in Global Market”. Kedua pembicara ini adalah orang-orang yang bergerak di bidang peningkatan keterampilan tenaga kerja garmen dengan mendorong pemberian sertifikasi keterampilan dan pelatihan untuk meningkatkan daya saing produk garmen Indonesia.

Sesi terakhir diberi judul Meningkatkan Kesempatan Kerja di Industri Tekstil dan Garmen – Rekomendasi bagi Pembuat Kebijakan. Tujuan sesi ini adalah mengajak para hadirin untuk memikirkan dan melakukan tindak lanjut konkrit dari konferensi ini. Gagasan tindak lanjut yang dilontarkan kepada hadirin adalah dibentuknya sebuah gugus kerja untuk memikirkan kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan bersama agar persoalan ini tetap mendapat perhatian dari para pemangku kepentingan dan masyarakat luas. Sayang sekali lontaran ini tidak mendapat sambutan dari sisa hadirin yang masih bertahan. Sesi ini tinggal diikuti oleh tak lebih dari 20 undangan.

Lepas dari itu, secara umum konferensi ini dapat dianggap berhasil mencapai tujuan dan mendapatkan perhatian dari pihak-pihak yang diharapkan.

INDIKATOR PELAKSANAAN KONFERENSI

Kehadiran dirjen ILMTA Departemen Perindustrian, kehadiran seluruh narasumber yang diundang dan jumlah undangan yang hadir dari semua kategori undangan dapat dijadikan indikator acara ini dianggap penting oleh pihak yang diundang. Demikian juga bertahannya sebagian besar undangan hingga sesi setelah makan siang menunjukkan acara ini cukup diminati.

Kehadiran wartawan yang cukup banyak (12 media), liputan yang muncul setidaknya dari 2 media nasional (Media Indonesia dan The Jakarta Post) dan mengangkat topik konferensi dalam sebuah rubrik analisis seperti yang dilakukan oleh Media Indonesia dapat dijadikan indikator lain bagi keberhasilan acara ini.

Konferensi ini juga menjadi arena untuk promosi institusi-institusi yang hadir dan mempertemukan pihak-pihak yang sama memiliki keperdulian terhadap kelangsungan industri ini dan menjadi awal bagi terbangunnya jaringan untuk bekerja sama mendukung keberlangsungan industri ini.

RENCANA TINDAK LANJUT

Pertemuan internal segera yang dilakukan oleh FES dan AKATIGA setelah acara selesai mengidentifikasi beberapa kegiatan tindak lanjut:

1. Mengirimkan surat terimakasih kepada Dirjen ILMTA Departemen Perindustrian dan meminta naskah sambutannya untuk dokumen penyelenggara

2. Mengundang kembali para pembicara dan moderator untuk mendapatkan pandangan mereka mengenai acara yang telah dilangsungkan dan merumuskan kemungkinan tindak lanjut yang dapat dilakukan

3. Mengundang serikat-serikat pekerja/buruh sektor tekstil dan garmen untuk mengetahui keseriusan mereka melakukan upaya-upaya mendorong dan mempertahankan industri tekstil dan garmen dan bersama-sama merumuskan kegiatan konkrit yang dapat dilakukan bersama

4.Melaksanakan konferensi serupa tahun depan

Rencana tindak lanjut ini perlu direalisasikan dan untuk itu sebaiknya diadakan pertemuan antara FES dan AKATIGA untuk membahas pelaksanaan tindak lanjut tersebut.

Bandung, 17 September 2008
Indrasari Tjandraningsih
AKATIGA- Pusat Analisis Sosial, Bandung

 

PENGUNJUNG

Kami memiliki 4 Tamu online
Anda Berada Dihalaman  : Home Penelitian Diseminasi Penelitian Akatiga Bagaimana Memenangkan Persaingan?

PETA SITUS AKATIGA

sitemap Peta Situs Akatiga
akatiga