akatiga.org

I. Tjandraningsih

I. Tjandraningsih

Peneliti senior Akatiga dengan latar belakang studi pembangunan, konsisten mendalami isu perburuhan dan pemberdayaan pekerja anak (termasuk perempuan) di sektor formal maupun informal. Sangat aktif dalam jaringan perburuhan nasional maupun internasional. Karya-karya ilmiah berkaitan dengan isu perburuhan yang didalaminya telah banyak diterbitkan baik dalam Indonesia maupun dalam Inggris. Sejak 2007 juga mengajar mata kuliah Hubungan Industrial di Magister Manajemen dan Fakultas Ekonomi Universitas Parahyangan, Bandung.

Penelitian:

  1. Research Coordinator of research on ‘Gendered Impacts of the Economic Crisis in Indonesia’ funded by ASEM-ILO-WB-CIDA, 1999
  1. Research Coordinator on “Enabling Environment for Sustainable Enterprises : Workers’ Perspective” with ILO and 4 Indonesia national trade union confederations, August 2011 – February  2012
  2. Principal researcher on “The Practice of Contract and Outsourcing Workers in Metal Industry in Indonesia”, AKATIGA-FSPMI-FES, Feb-August 2011
  3. Principal Researcher on “The Living Wage Survey”, FES-AKATIGA-TWARO, April 2009
  4. Principal Researcher for research on ‘The Impact of the expiry of  the Agreement on Textile and Clothing on Textile and Garment Industry in Indonesia’, AKATIGA & Friedrich Ebert Stiftung, 2007
  5. Research Coordinator of a joint research project of AKATIGA-TURC-LABSOSIO UI funded by the European Union on ‘Promoting Fair Labour Regulations in Indonesia: A Study and Advocacy in Improving Local Level Investment Environment’ , April 2005 – March 2006

 

Dalam bukunya “Ïndonesia Kita”, Nurcholish Madjid menuliskan bahwa salah satu dari 10 platform politik untuk memperbaiki bangsa dan Negara Indonesia adalah mewujudkan keadilan social bagi seluruh rakyat sebagai tujuan bernegara. 

Selasa, 25 Februari 2014 09:06

Buruh Perkotaan di Indonesia

A. PENDAHULUAN

Pembangunan di Indonesia yang amat berbias kota. Membawa akibat  persoalan perburuhan di perkotaan menjadi amat krusial. BPS mencatat bahwa tingkat partisipasi angkatan kerja di perkotaan pada Februari tahun 2013 adalah 67% dan tingkat pengangguran terbuka di kota jauh lebih tinggi (7,66% untuk 2012) dibandingkan di desa (4,72%). Karena ciri pasar tenaga kerja indonesia yang dualistik maka tenaga kerja di kota menunjukkan ciri yang sama: buruh di sektor formal dan di sektor informal. Sesuai dengan karakteristiknya maka sektor formal mudah direkam datanya dan akses terhadap kesempatan kerja di sektor formal di kota dua kali lipat (56%) lebih banyak dibandingkan dengan akses terhadap sektor formal di desa (24%)  (ceds, 2012).

Artikel ini  juga dimuat dalam buku Menemukan Konsensus Kebangsaan Baru : Negara, Pasar, dan Cita-cita Keadilan yang ditulis Faisal Basri, diedit oleh Dinna Wisnu dan Ihsan Ali-Fauzi dan diterbitkan oleh PUSAD Paramadina-Ford Foundation-Asia Foundation Desember 2013.

Dalam bukunya “Indonesia Kita”, Nurcholish Madjid menuliskan bahwa salah satu dari 10 platform politik untuk memperbaiki bangsa dan Negara Indonesia adalah mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat sebagai tujuan bernegara.  Di Indonesia kini yang sebagian warganya semakin kaya dan sejahtera, masih lebih besar bagian warganya yang belum menikmati kue kesejahteraan. Bagian besar warga itu adalah kaum pekerja yang dalam sebuah situasi persaingan  global menjadi kelompok yang masih harus berjuang untuk dapat mencicipi kue itu. Apa yang terjadi pada pekerja di Indonesia?

Senin, 25 November 2013 06:55

Sesama Buruh Menghujat Aksi Buruh

 Dimuat di Pikiran Rakyat, Teropong, Halaman 15, Senin 11 November 2013.

Setiap tahun dalam kuartal terakhir- terutama di antara bulan Oktober hingga Desember - dunia ketenagakerjaan di Indonesia diwarnai oleh aksi kolektif buruh dalam bentuk demonstrasi dan unjuk eksistensi. Saat itu adalah dimulainya proses penghitungan kenaikan upah minimum kota/kabupaten dan provinsi. Proses ini dilakukan dalam institusi Dewan Pengupahan yang terdiri dari tiga pihak atau tripartit yakni serikat buruh/pekerja, asosiasi pengusaha dan pemerintah.

Jumat, 08 November 2013 02:46

Workers Getting More Education

One signal of Indonesia’s industrial relations dynamics over the last few years is the high intensity of workers actions. In Jakarta alone the local police recorded no less than 1,050 workers actions in 2012 with consistent demands: wage increase and improvement of working conditions. Worker demonstrations also show a pattern in terms of timing — May Day and the last quarter of the year (during negotiations for the annual minimum wage increase). Since 2010, besides demands on wage increase and welfare, worker demonstrations have also demanded the implementation of universal social security.

Jumat, 13 September 2013 09:21

State-Sponsored Precarious Work in Indonesia

This article discusses labor outsourcing as the main form of precarious work in Indonesia. It is argued that demands for labor flexibility and the expansion of precarious work show that the state’s role in protecting workers is being cast aside as Indonesia’s peripheral position in global capitalism sees the state sponsoring a “labor flexibility regime.”

Sepanjang tahun 2012, dunia perburuhan dan hubungan industrial di Indonesia dihiasi dinamika yang amat tinggi. Aksi-aksi buruh turun ke jalan-jalan utama dan pusat-pusat pemerintahan di berbagai kota besar di Indonesia menjadi penanda utamanya. Ada tiga hal yang menjadi tuntutan buruh melalui aksi-aksinya yakni kenaikan upah, penghapusan praktik outsourcing tenaga kerja dan tuntutan jaminan sosial.

Senin, 20 Februari 2012 09:02

Kebijakan Pengupanan dan Investasi

Tahun 2012 kita masuki dengan rangkaian gejolak rakyat kecil yang menuntut dan mempertahankan haknya: buruh menuntut kenaikan upah minimum, petani menuntut lahan, pedagang kakilima  mempertahankan lapaknya. Gejolak ini secara jelas memperlihatkan dua kecenderungan yang semakin tajam. Pertama pengabaian Negara  terhadap kesejahteraan warganegara dan kedua pemihakan pemerintah terhadap pemilik modal.  Kedua kecenderungan  ini  paling jelas tampak dari rangkaian demonstrasi buruh menuntut kenaikan upah minimum. Ironisnya peristiwa ini terjadi di saat secara makro Indonesia dinyatakan sebagai Negara yang amat diminati investor asing  dan peringkat investasinya dinyatakan terus membaik. Bagaimana menjelaskan ironi ini? Jawabannya ada pada kebijakan investasi yang  ketinggalan jaman  dengan menjual upah murah, di tengah tuntutan investor yang sudah jauh bergeser dari aspek upah upah murah ditambah dengan ketidaktegasan pemerintah terhadap peraturan-peraturannya sendiri.

Persoalan kemiskinan di Negara ini semakin merisaukan. Masalah kemiskinan yang terus meluas di kalangan yang memang sudah miskin: buruh, petani, nelayan, pelaku sector informal, semakin kasat mata.  Upah dan pendapatan kelompok marjinal ini semakin rendah dan semakin tak mampu mengejar lonjakan kenaikan harga-harga barang kebutuhan pokok.

Salah satu kelompok yang sedang menghadapi pemiskinan adalah buruh di sector industri manufaktur. Apabila ditelusuri lebih  ke hulu, kemiskinan buruh di sector industri sesungguhnya merupakan hasil dari kebijakan pemerintah  untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif sebagai upaya untuk mengundang sebanyak mungkin investor (asing). Ada dua strategi dasar yang dilakukan pemerintah untuk mendukung kebijakan tersebut yakni  pertama menjalankan kembali politik upah murah dan kedua menerapkan prinsip-prinsip liberal, fleksibel dan terdesentralisasi dalam urusan ketenagakerjaan. Kedua strategi tersebut secara sistematis telah memiskinkan buruh.

Kamis, 29 Januari 2009 04:43

Bagaimana Memenangkan Persaingan?

Laporan Pelaksanaan
KONFRENSI NASIONAL TEKSTIL DAN
GARMEN
INDONESIA
AKATIGA - FES, Hotel Sultan Jakarta


PENGANTAR

Konferensi ini merupakan tindak lanjut dari sebuah kegiatan studi mengenai dampak berakhirnya kuota ekspor tekstil dan garmen terhadap industri ini di Indonesia. Studi dampak berakhirnya kuota dilakukan dalam sebuah proyek bersama di tingkat regional untuk dua negara yakni Indonesia dan Kamboja dan dikembangkan sebagai proyek bersama antara FES, Sudwind, AKATIGA (Indonesia) dan CIDS – Cambodian Institute of Development Studies (Kamboja).

Apa itu Akatiga?

Lembaga Pusat Penelitian Sosial yang mengkaji isu-isu sosial untuk pengentasan kemiskinan bagi kaum marginal di Indonesia.

Alamat

Jl. Tubagus Ismail II. No 2.
Bandung 40134. Jawa Barat - Indonesia.

Phone: 022 2502302
Fax: 022 2535824

E-mail: akatiga@indo.net.id

  

Berlangganan

Hasil studi, Berita dan opini di email anda

Peta

Anda disini: Publikasi Artikel I. Tjandraningsih