akatiga.org

Santi Cahya

Santi Cahya

01 Maret 2017 In Jurnal Analisis Sosial

Cover JAS Vol 19 No 2

Tiga tahun berlalu setelah Undang-Undang Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa disahkan pemerintah. Selama tiga tahun itu pula desa, khususnya pembangunan desa, menjadi isu yang sangat dinamis dan menjadi perdebatan di kalangan peneliti, aktivis, pejabat pemerintahan, media, dan publik yang lebih luas.

03 Januari 2017 In Hasil Penelitian

JustJobs Networks’ 2016 Signature Volume: Transformations in Technology, Transformations in Work

Overview

Technology is fundamentally reshaping the nature of work worldwide, spurring heated debate. While some worry that deepening automation and the rapid growth of online and “on-demand” labor platforms are eroding job quantity and quality, others claim that productivity gains will translate into more and better jobs in the long run. With its 2016 signature volume, JustJobs Network introduces real case studies from around the world, examining how technology in its different dimensions is changing employment outcomes.

The 10-chapter volume, “Transformations in Technology, Transformations in Work,” discusses a diverse range of topics: From online freelancer platforms in Latin America to the on-demand economy in Indonesia, from new models of work design in Germany to tech-based farm subsidies in Zambia. It adds nuance to the global debate and grounds it in the experience of policymakers, businesses and workers around the world.

Key Themes

  1. The discourse on technology highlights the trade-off between efficiency and equity, and policy frameworks must strike a balance between the two.
  2. The on-demand economy demands new forms of regulation and worker representation. Policymakers must be proactive about harnessing its benefits and minimizing its costs.
  3. Technology holds the promise of improving livelihoods and enabling labor market access for marginalized communities, but these effects should not be overestimated.
  4. Workers are leveraging digital technologies to empower and organize themselves.
  5. New technologies require rethinking “work design” – the way labor and technology are deployed, how work is executed and the kinds of tasks and interactions it involves.

 

Click here to download full report:

http://www.justjobsnetwork.org/wp-content/pubs/reports/transformations_in_technology_report.pdf

28 Desember 2016 In Artikel

Kami akan share hasil presentasi rekan magang kami dari Imelda, yang mengangkat isu “Land Grabbing” di Pulau Bangka. Imelda adalah mahasiswi yang menempuh program Master di Wageningen University untuk program International Development Studies (MID), dengan fokus studi Sociology of Development. Dan ia memilih AKATIGA sebagai tempat magangnya yang menjadi syarat dalam melanjutkan pendidikannya ke proses thesis.

 

Imelda memaparkan mengenai apa yang ia teliti selama di  Pulau Bangka, bagaimana gambaran “Land Grabbing” di Bangka dan bagaimana antropolog dapat berkontribusi dalam isu ini.

 

Pulau Bangka terletak di Sulawesi Utara, Indonesia. Dan merupakan destinasi pariwisata laut yang diminati. Luas pulaunya 4.800 hektar dan jumlah penduduknya sekitar 3.000 orang. Hampir setengah luas pulaunya, merupakan lahan tambang yang dimiliki oleh perusahaan Cina. Penduduk Bangka sudah menentang proyek tambang tersebut karena dapat menimbulkan masalah kerusakan lingkungan yang sangat serius.

 

Sejak tahun 2010, pertambangan ini menuai konflik. Penduduk Bangka yakin bahwa proyek tambang ini akan membahayakan kehidupan mereka. Perusahaan tambang ini ternyata tidak memenuhi syarat penilaian dampak lingkungan yang baik. Tidak hanya menimbulkan efek pada industri pariwisata dan perikanan, proyek pertambangan ini akan menimbulkan efek polusi air yang akan merusak kehidupan bawah laut dan karang. Penduduk Bangka juga mengeluhkan bahwa suplai air bersih untuk mereka terputus selama proyek tambang berjalan.

 

Berangkat dari masalah tersebut, penduduk Bangka bekerja sama dengan pemilik resort  membuat aksi untuk mencegah terjadinya kerusakan yang lebih parah lagi. Masalah semakin rumit dengan bergantinya status Pulau Bangka yang awalnya Pulau tujuan pariwisata dan perikanan, menjadi Pulau dengan potensial tambang mineral yang tinggi di tahun 2013. Sebagian besar penduduk terpaksa harus menjual lahannya untuk keperluan pertambangan namun perusahaan tambang belum membayar ganti rugi/relokasinya secara penuh.

Land Grabbing di Pulau Bangka “didukung” oleh pemerintah daerah yang mengizinkan perusahaan Cina mengeksplorasi bijih besi dan mineral lainnya di pulau ini.

 

Imelda dalam studinya melihat beberapa kontribusi yang bisa diberikan oleh antropolog dalam melihat fenomena Land Grabbing di Pulau Bangka. Antropolog dapat mendokumentasikan proses alih fungsi lahan yang merugikan penduduk. Selain itu antropolog juga dapat menyuarakan realitas-realitas yang terlewatkan, memaparkan teori, dan menunjukkan proses eksploitasi yang dapat membukakan mata penduduk terhadap apa yang terjadi di pulaunya. Antropolog memiliki peran penting dalam menunjukkan sisi politik yang terlibat dalam penyajian fakta, menangkap proses yang terjadi bahwa ada manipulasi oleh “yang berkuasa”  untuk kepentingan pribadi. Serta menghubungkan perspektif ontologis dengan wacana kebijakan. 

 

 

 

Download Land Grabbing Paper

 

06 April 2016 In Acara

 

Sebuah kolaborasi kerja sama Akatiga Pusat Analisis Sosial sebagai lembaga penelitian sosial dengan institusi pendidikan Rumah Belajar Semi Palar. Kegiatan belajar di Semi Palar menggunakan konsep pendidikan holistik. Bukan hanya murid yang terlibat dan belajar tapi juga setiap individu yang terkait di dalamnya – orang tua, juga para guru dan seluruh anggota tim penyelenggara sekolah.

AKATIGA, sebagai lembaga yang telah melakukan penelitian di puluhan daerah di Indonesia, juga memiliki kemampuan dalam melakukan transfer pengetahuan dan keterampilan meneliti melalui kegiatan pelatihan, diskusi, atau kelompok-kelompok belajar terstruktur. Bagi AKATIGA, kegiatan transfer pengetahuan dan keterampilan seperti ini juga tidak terlepas dari misinya untuk mendorong terjadinya perubahan melalui, di antaranya, penguatan (empowerment) kelompok-kelompok masyarakat sipil. Dalam konteks ini, remaja memiliki peran yang sangat strategis karena mereka umumnya memiliki semangat, energi, dan rasa ingin tahu yang tinggi yang dapat disalurkan ke dalam kerja-kerja positif demi penguraian dan penyelesaian maslaah-masalah yang ada dan dialami masyarakat. Di samping itu, para remaja tentu saja juga merupakan generasi yang kelak akan meneruskan estafet sosial dan politik dalam memainkan peran kepemimpinan dan perubahan sosial di tengah-tengah masyarakat. 

Sebagai keberlanjutaan dari keikutsertaan adik-adik Semi Palar dalam Kuliah Umum Ben White Februari lalu, AKATIGA menyambut baik ketertarikan mereka untuk belajar mengenai dasar-dasar penelitian. Adik-adik yang tergabung dalam Kelompok Petualang Belajar ini setara kelas 1 SMA, dan mereka bisa belajar dimana saja, kapan saja. 

Mudah-mudahan AKATIGA bisa menjadi rumah belajar mereka, dan AKATIGA pun bisa belajar dari "kacamata" mereka melihat fenomena-fenomena yang mereka temukan. 

Terima kasih untuk Agni Yoga Airlangga sebagai kakak pendamping Kelompok Petualang Belajar yang telah mendorong adik-adik ini untuk belajar lebih dalam mengenai penelitian dan juga terima kasih Mba Indrasari Tjandraningsih yang sudah menjadi fasilitator adik-adik Semi Palar. 

Semoga kegiatan ini bisa berkelanjutan menjadi kegiatan-kegiatan turunan lain. 
Selamat belajar! :)

Apa itu Akatiga?

Lembaga Pusat Penelitian Sosial yang mengkaji isu-isu sosial untuk pengentasan kemiskinan bagi kaum marginal di Indonesia.

Alamat

Jl. Tubagus Ismail II. No 2.
Bandung 40134. Jawa Barat - Indonesia.

Phone: 022 2502302
Fax: 022 2535824

E-mail: akatiga@indo.net.id

  

Berlangganan

Hasil studi, Berita dan opini di email anda

Peta

Anda disini: Publikasi Referensi Santi Cahya